Pada tahun 2011 lalu, saya diajak ke sebuah konferensi internasional yang bertajuk “Understanding Jesus Movement”. Di event tersebut saya dipertemukan dengan “orang-orang aneh” yang mirip seperti saya, orang-orang yang tidak dibesarkan dalam latar belakang religius, pendidikan, serta budaya Kristen, but desperately want to love Him and be His disciples tanpa harus ‘dikristenisasi’. Mereka semua murid-murid Yesus yang setia, dapat melayani dan bersaksi dengan begitu indah dan efektif di komunitas asal mereka masing-masing, tanpa ada penolakan yang signifikan karena mereka memang bukan Kristen. Hal ini penting untuk melihat secara objektif.

Apakah kita benar dianiaya karena mengikut Yesus? Atau semata karena dianggap telah mengkhianati komunitas kultural kita?

Agama dan budaya hampir sulit dipisahkan. Oleh karena itu, ketika seseorang pindah agama seringkali dimaknai juga sebagai tindakan ‘kacang lupa kulit’. Bahwa ia telah meninggalkan kultur warisan orangtuanya yang baik dan menjadi bagian dari sebuah kultur asing yang kemungkinan tidak lebih baik. Kalau kemudian ada tanggapan yang menyebut bahwa agama mengatasi budaya, lalu kenapa ada “Chinese Church”, “Manado Church”, “Batak Church”, “Indonesian Church”?

Sampai kapanpun orang Batak pasti bangga dengan ke-Batak-annya, dan tidak akan terima disebut sebagai orang Jawa. Orang Tionghoa di Indonesia tetap bersukaria pada perayaan Tahun Baru China walaupun mereka sudah lahir dan dibesarkan di Indonesia. Pun begitu dengan kultur lainnya karena adalah takdir Tuhan menciptakan keragaman latar belakang dan juga naturnya manusia merasa nyaman berkumpul dengan orang yang berlatar belakang sama.

Konsep yang saya peroleh dari konferensi tersebut kemudian menimbulkan euforia yang tanpa sadar mempengaruhi kebijakan saya dalam memilah dan memilih apa-apa yang harus saya sampaikan, terutama kepada orang-orang Advent. Saya begitu bersemangat ingin menyampaikan konsep ini agar bisa segera diterima oleh komunitas GMAHK hingga tidak sempat berpikir untuk mengantisipasi respon mereka serta dampaknya. (Saya menyampaikannya di forum ini karena saya yakin semua orang disini sudah sangat terbiasa dengan ‘makanan keras’)

Ketika saya diundang oleh sebuah gereja, di kesempatan seminar sore harinya saya menceritakan mengenai konsep tersebut; bahwa kita tidak perlu meng-Kristen-kan mereka yang memutuskan untuk menjadi murid Yesus. Lalu pada sesi tanya jawab,  Seorang hadirin berkata seperti ini dengan nada yang cukup keras: “Saudara, Yesus saja tidak cukup!”. Saya ulangi sekali lagi pernyataan orang tersebut: “Yesus saja tidak cukup”. Mudah-mudahan saya salah ketika memahami makna dibalik pernyataan tersebut yang menurut saya seperti ini:

Menjadi murid Yesus itu anda harus jadi anggota sebuah Gereja Kristen dengan mengikuti segala syariatnya. Karena ini berbicara konteks Advent, maka yang dimaksud oleh orang itu adalah bahwa pengikut Yesus yang benar itu harus masuk jadi anggota gereja Advent, paling tidak menurut 10 Hukum Musa dan tidak makan makanan haram.. Karena kalau hanya ikut Yesus, gereja lain pun melakukannya.

Tanpa bermaksud menafikan doktrin khas lain seperti Bait Suci, Reformasi Kesehatan, Roh Nubuat, yang tentu saja membuat GMAHK unik namun mengatakan bahwa “Yesus saja tidak cukup” itu cukup memberi kesan yang mendalam bagi saya. Hal tersebut menyiratkan bahwa orang tersebut (dan mungkin juga saya) lebih bergantung pada usaha penurutan terhadap hukum ketimbang menghidupkan pengalaman keselamatan yang telah diterima melalui iman.

www.theology21.com

www.theology21.com

Sehingga gantinya bersukacita melihat ada orang yang menerima Yesus namun kemudian tidak jadi Kristen (atau tidak bergabung dengan gereja Advent), muncul rasa keberatan di hati karena dengan tidak bergabung dengan gereja Advent, murid Yesus yang baru itu tidak melakukan penurutan terhadap hukum seperti yang selama ini saya lakukan! Ataupun kalau tidak keberatan, mungkin merasa diri lebih baik dan lebih sempurna karena berada di gereja yang benar. (Mudah-mudahan asumsi saya ini salah).

Kalau begitu sikapnya, salahkah bila kemudian saya memiliki persepsi bahwa penurutan hukum yang dilakukan olehnya selama ini bukanlah “buah dari penglaman keselamatan” tapi masih berupa “usaha untuk mengejar keselamatan”? Orang yang lolos dari ancaman hukuman mati karena jasa dan budi baik seseorang, akan lebih bersukacita ketika menyaksikan atau menceritakan yang mana:

Hukum yang menjeratnya hingga hampir dihukum mati? Ataukah orang yang menyelamatkannya dari hukuman mati?

Saya jadi teringat kisah tentang dua orang hamba yang berhutang pada majikannya dan kemudian dianggap lunas. Ternyata yang lebih bersyukur adalah orang yang hutangnya lebih besar dan dia tidak akan pernah melupakan budi baik serta kemurahan majikannya tersebut. Saya datang dari organisasi yang meyakini kalau dunia ini akan damai ketika Syariat Allah bisa diterapkan secara formal dan global. Berjuang dengan harta diri secara total. Namun saat menghidupkan Syariat secara kaffah dan melakukan ibadah dengan lengkap dan sempurna sesuai tuntutan, jangankan mendamaikan dunia, kedamaian dalam diri saja tak kunjung terasa. Sampai Dia menangkap saya dan setelah saya ditangkap oleh-Nya:

Lalu kenapa kemudian tiba-tiba saya diharuskan untuk menghidupkan syariat baru lagi? Dan menganggap Dia saja “tidak cukup”? Apakah Syariat baru ini lebih hebat? Masakan beribadah seharian sekali seminggu bisa dianggap lebih baik dibandingkan ibadah minimal 5 kali sehari, atau 24/7 ?

Masa’ yang tadi sudah rapi berhijab, ketika menjadi Kristen tidak perlu lagi memakai hijab malah diizinkan pakai pakaian yang lebih terbuka? Kalau kita bilang Tuhan tidak lagi melihat hal lahiriah, oleh sebab itu tidak perlu pakai hijab lagi, atau tidak perlu shalat lima waktu lagi, lalu kenapa masih menuntut orang yang ikut Yesus untuk mengikuti huku yang sifatnya lahiriah?Kalau memang hukum lahiriah masih dianggap penting, tidakkah lebih baik bagi mereka yang sudah memiliki syariat dibiarkan tetap menjalankannya? Tentu sudah dengan pemaknaan yang berbeda.

Kalau dulu shalat karena mencari pahala. Sekarang shalat karena sudah selamat. Sehingga manifestasi ‘amar ma’ruf nahi munkar-nya lebih bersifat rohani ketimbang anarki layaknya ormas preman bersorban putih yang memaksa tegaknya syariat demi kemaslahatan umat (walaupun sebagian umat tidak pernah memintanya). Sungguh, saya tidak tertarik dengan syariat baru karena YESUS SUDAH LEBIH DARI CUKUP BAGI SAYA. I’m more into the LAWMAKER than the LAW itself.

Untuk sekedar dipahami, bahwa pertentangan saya melalui tulisan ini adalah dengan paradigma bukan pribadi. Oleh sebab itu mohon untuk tidak menganggap bahwa saya memusuhi organisasi tertentu apalagi terhadap seseorang termasuk pemahaman siapapun disini karena kita semua sama-sama murid Yesus. Mohon maaf seandainya ada yang keberatan dengan klaim sepihak saya sebagai murid Yesus tersebut karena memang pemahaman serta penurutan saya terhadap Alkitab, 10 Hukum, Roh Nubuat, dan gaya hidup vegetarian masih jauh dibawah sebagian besar orang disini. Sejatinya perbedaan kita hanya pada cara. Oleh sebab itu hendaknya perbedaan tersebut disikapi dengan bijak sesuai pesan Guru Agung sekaligus Imam Besar kita:

“Barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.”

Kalaupun saya tetap dianggap musuh atau agennya setan, itu mungkin berarti tugas setiap orang di forum ini untuk lebih mengasihi saya. (extramiles: DSP)

 

*) Nama penulis dan isi tulisan yang ditampilkan atas persetujuan dan izin Penulis. Kandungan dan kelahiran artikel diatas sepenuhnya menjadi keinginan dan tanggungjawab Penulis. JIka ada pembaca yang ingin menuliskan artikel serupa bisa segera menghubungi redaksi extramiles.club

FB Comments