Mengapa 10 Hukum itu dituliskan oleh Sang Maha Pengasih dan diberikan kepada Israel?

Apakah Dia yg adalah Tuhan yang mengundang-undangkan kebenaran hukumNya?

Ataukah itu merupakan keinginan dari manusia berdosa itu sendiri?

Bukankah Kebenaran itu tidak boleh di undang-undangkan?

Karena apabila Kebenaran itu diundang-undangkan, maka hilang dan lenyaplah Kebenaran tersebut seperti susu sebelanga yang rusak oleh karena setitik nila. Apapun kebenaranmu yang kalau diundang-undangkan maka disana terdapat pikiran babilon, sebuah tinta hitam pada kebenaran, setitik nila pada kebenaran dimana sistem Babilon memaksakan pikiran untuk patuh dalam penurutan hukum. Kekuasaan, kekuatan, keyakinan dan aturan-aturan menjadi satu jalan atau alat untuk memberangus kebebasan hati nurani dan menjadikan mereka yang menyembah sistem Babilon menjadi budak selamanya.

Perlu dipahami bahwa didalam Tuhan tidak ada sedikitpun unsur-unsur kejahatan, dan Dia, Tuhan tidak mencobai siapapun termasuk dalam konteks pemberian 10 hukum tersebut seharusnya tidak ada unsur paksaan, atau unsur kekuasaan di dalam Tuhan selain daripada Kasih saja. Itulah sebabnya perlu dipahami :

Mengapa 10 perintah Allah itu diberikan?

Sebelum 10 hukum itu dinyatakan, ada peristiwa yg menjadi penyebab mengapa sampai hukum itu diberikan, dengan kata lain sebelum anda membaca Keluaran pasal 20 bacalah dan pelajarilah pasal-pasal sebelumnya dengan mata tertuju kepada Yesus Kristus yaitu kehidupanNya, dan dengan melihat kepada dunia yang nyata dari kehidupan yang kita jalani saat ini. Ada peristiwa penting yang sangat mendasar dan yang mewakili kondisi kemanusiaan berdosa secara umum pada kehidupan umat manusia melalui sejarah Israel ini. Catatan sejarah ini tertulis di Keluaran pasal 19 sebelum peristiwa Keluaran pasal 20  tentang hukum.

Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel.” Lalu datanglah Musa dan memanggil para tua-tua bangsa itu dan membawa ke depan mereka segala firman yang diperintahkan TUHAN kepadanya. Seluruh bangsa itu menjawab bersama-sama: “Segala yang difirmankan TUHAN akan kami lakukan.” Lalu Musa pun menyampaikan jawab bangsa itu kepada TUHAN. —Keluaran 19 : 5-8

Dan kebodohan alamiah berdosa manusia terhadap kehendak Allah ini terulang kembali hingga dimeterai dgn darah Qurban dan menjadi suatu perjanjian yg kekal antara Allah dan manusia.

Lalu datanglah Musa dan memberitahukan kepada bangsa itu segala firman TUHAN dan segala peraturan itu, maka seluruh bangsa itu menjawab serentak: “Segala firman yang telah diucapkan TUHAN itu, akan kami lakukan.” Sesudah itu Musa mengambil sebagian dari darah itu, lalu ditaruhnya ke dalam pasu, sebagian lagi dari darah itu disiramkannya pada mezbah itu. Diambilnyalah kitab perjanjian itu, lalu dibacakannya dengan didengar oleh bangsa itu dan mereka berkata: “Segala firman TUHAN akan kami lakukan dan akan kami dengarkan.” Kemudian Musa mengambil darah itu dan menyiramkannya pada bangsa itu serta berkata: “Inilah darah perjanjian yang diadakan TUHAN dengan kamu, berdasarkan segala firman ini.” —Keluaran 24: 3, 6-8

Inilah peristiwa yg menjadi latar belakang pemberian 10 hukum kepada Israel melalui Musa. Israel  pada masa itu adalah manusia bebal, tegar tengkuk, angkuh, murtad dan tidak tahu diri. Mereka baru keluar dari Mesir dimana hidup mereka di Mesir menjadi budak selama 4 abad lebih. Dimana gelombang otak mereka hanya menyimpan data tentang tradisi dengan budaya penyembahan kepada berhala. Dimana pikiran dan perbuatan mereka dipenuhi oleh konsep-konsep perbudakan dan Babilon. Dapatkah pikiran budak yang berdosa dan babilon ini melakukan atau melaksanakan perintah yang suci dan mulia dari Tuhan? Kondisi keberdosaan dari hamba dosa Israel yang baru keluar dari perbudakan mesir ini sama seperti bayi yang baru lahir dengan suatu warisan yang buruk dari orang berdosa yaitu dosa itu sendiri. Apapun Firman Tuhan itu selalu mengandung unsur kehidupan.

Adakah bayi yang dapat mengikuti dan mendengar serta memahami kehendak dari pikiran ayahnya?

Dapatkah mereka mengerti dan memahami perintah Tuhan yang adalah janjinya?

Ketika Israel hidup dengan pikiran dan tindakan yang hanyalah kejahatan semata-mata. Mereka yang murtad ini hanya pandai berkata: Ya Tuhan kami akan melakukannya! Tanpa mereka mengerti dan mengetahui perintah maupun maknanya yang sesungguhnya mereka tidak tahu dengan apa harus mereka lakukan terhadap 10 (sepuluh) jenis dosa mereka. Dengan kata lain bahwa sesungguhnya Israel lah yang menginginkan hukum yang adalah hukuman bagi diri mereka sendiri. Israel mau memenuhi janji itu dengan upaya mereka sendiri yang hanyalah tanah liat tanpa daya.

Bukankah pikiran yang sama seperti keadaan Israel ini menjadi pola pikir umat beragama sedunia, dan pola pikir yang sangat kental terjadi di jemaah yang mengaku sebagai umat Allah. Setiap hari Jumat, Sabtu dan Minggu mereka berkata: “Ya Tuhan, kami akan melakukannya”. Sesungguhnya mereka menyatakan dalam kehidupan mereka yaitu dengan berkata : “ya Tuhan, kami akan memakukannya, dan membekukannya”. Hal ini menjadi sangat umum terjadi dalam kehidupan nyata di dunia sepanjang zaman hingga sekarang. Janji manusia hanyalah slogan, sedangkan slogan yang ditulis dan diucapkan itu hanyalah sebuah upaya untuk menutupi kelemahan mereka atas ketidaksanggupan mereka dalam penurutan kepada hukum.

Setiap kita hendaklah mengakui kelemahan dan ketidakberdayaan kita yang hanyalah debu, tanah liat ini terhadap dosa. Tidak terkecuali terhadap mereka yang kelihatan berbeda dalam penampilan, berbeda oleh karena  jubah kebesaran mereka , berbeda oleh karena mereka dianggap dan menganggap diri mereka lebih suci dari orang lain.

Israel mau melakukannya sesuai dengan ucapan mereka yang murtad, yaitu: mereka berpesta menyembah patung lembu emas dimana baru saja mereka berjanji mau menuruti perintah Tuhan. Bukankah yang berjanji itu adalah Tuhan. Tuhan yang berjanji, maka siapa yang berjanji dialah yang menepati dan memenuhi janjinya dan bukan orang berdosa yang memenuhi apa yang sudah dijanjikan Tuhan. Praktis setelah peristiwa di buku Keluaran 19 dan 20 itu dari zaman ke zaman Israel hanyalah murtad semata-mata. Hal kemurtadan itu tiba pada puncaknya dimana mereka menyalibkan Isa Kristus yang tidak bersalah dan yang tidak bercacat cela terhadap kehidupan. Peristiwa pemusnahan kota Yerusalem di tahun 70 Masehi menjadi pelajaran dan kesaksian yang penting atas kehidupan yang dijalani mereka.

Mereka mau menurut hukum, maka diberikanlah 10 hukum tersebut kepada mereka. Mereka tidak menyadari dan tidak mau memahami apapun tentang hukum dan Bait Allah tersebut. Mereka tidak menyadari dan tidak mengerti akan dosa mereka yang ditunjukan dan dinyatakan melalui hukum dan bait Allah tersebut. Dalam keadaan mereka yang buta dan tuli akan kehendak Allah, maka mereka semakin tenggelam kepada keinginan merema dengan ritual dan upacara keagamaan.

Hukum Allah di dalam Bait Allah adalah gambar kontras antara Allah yang maha pengasih dengan manusia yang maha berdosa. Mereka mengejar kesucian melalui peribadatan yang tidak dikehendaki Tuhan. Manusa berdosalah yang menginginkan kesucian dengan cara-cara dan upaya mereka sendiri sebagaimana mereka menginginkan makan daging dengan kuali besar berbumbu rempah-rempah dan ingin kembali ke Mesir menjadi budak

Adakah Israel memperoleh kesucian dengan segala peribadatan mereka di Bait Allah? Adakah peribadatan mereka di Bait Allah itu merubah tabiat mereka menjadi baik, benar dan suci? Adakah israel menjadi suatu bangsa yang kudus? Salib dan kota Yerusalem menjadi bukti sejarah kegagalan mereka dalam penurutan dan tuntutan akan hukum. Penurutan dan tuntutan hanya ditujukan kepada manusia Isa Kristus! Hal itu digenapi oleh Kristus melalui kemanusiaan-Nya dan bukan oleh Israel ataupun kita. Manusia pasti gagal dalam upayanya yang mau memenuhinya dan sebaliknya manusia yang dalam kegagalannya memenuhi tuntutan hukum itu justru berbalik berupaya menghancurkannya, mereka menghancurkannya melalui upacara-upacara peribadatan itu sendiri dengan menambah dan membuat aturan yang mereka buat sendiri kemudian mereka turuti agar mereka terlihat suci dan saleh. Kesalehan mereka yang demikian hanyalah kesalehan palsu. Kesalehan palsu ini berlangsung dari zaman ke zaman hingga sekarang.

Demikian kasus 10 hukum ini, kita dapat melihat bahwa hukum itu ditunjukkan kepada Israel bukan untuk menuntut penurutan dan kesucian mereka. Tentunya Tuhan maha mengetahui bukanlah pribadi yang tidak mengetahui akan ketidaksanggupan atau ketidakberdayaan kita orang berdosa ini.

Jadi, sangat jelas bahwa 10 hukum itu hanyalah untuk menunjukkan, menyatakan dan memberitahukan dosa-dosa mereka yang mana mereka sedang berkubang didalamnya. 10 hukum itu diberikan kepada orang-orang sombong dan budak dosa agar mereka sadar dengan dosa dan kesalahan yang ada pada pikiran dan tindakan mereka selama mereka hidup didunia ini. 10 hukum memberitahukan kepada mereka bahwa mereka dan semua kita ini hanyalah orang hukuman atau narapidana yang sedang menjalani hukuman oleh karena tabiat berdosa kita, dan kita semua menjadi penghuni pencajara yaitu bumi dengan putusan mati.

Adakah manusia yang luput dari kematian?

Sepuluh hukum merupakan hukuman bagi orang berdosa menunjukkan:

1. Bahwa mereka dan semua manusia adalah pribadi yang mau menjadi Allah lain dengan menyembah kepada diri mereka sendiri. Allah lain yang adalah ‘aku’ dalam diri mereka menjadi pusat kendali dari pikiran dan tindakan mereka.

2.  Bahwa mereka adalah pribadi yang selalu membuat berbagai patung ‘diri’ mereka dengan membentuk karakter-karakter jahat sebagaimana dosa dan kejahatan adalah tuan mereka dalam tabiat.

3. Mereka adalah pribadi dimana karena mereka nama Allah akhirnya dihujat, dengan kata lain mereka menyebut nama Tuhan melalui tabiat mereka yang jahat itu.

4. Mereka lebih menyukai kematian mengikat keberadaan dan keadaan mereka sendiri daripada kehidupan merdeka yang diberikan secara cuma-cuma. Mereka mengabaikan kasih yang adalah pengampunan dan menggantikannya dengan berbagai upacara-upacara penyembahan berhala. Mereka lebih memilih sabat palsu yang mudah mereka turut dan laksanakan ketimbang hidup dalam penyangkalan diri dan pengorbanan demi seama manusia.

5. Mereka adalah org yg kurang ajar dan yang tidak menghormati orangtua mereka sendiri.

6. Mereka adalah pembunuh.

7. Mereka adalah para pezinah.

8. Bhw mrk adalah para pencuri.

9. Mereka adalah para saksi dusta.

10. Mereka adalah pribadi yang suka merebut istri org lain, dan serakah ingin memiliki harta dan tanah org lain.

www.joblo.com

www.joblo.com

Israel di zaman itu menjadi takut setelah dibacakan 10 hukum di loh batu tersebut yang membuka topeng aib sendiri oleh karena kejahatan yang datang dari pikiran dan tindakan mereka, 10 hukum yang mereka inginkan itu ternyata adalah penghukuman bagi diri mereka. Rupanya 10 hukum itu adalah tuntutan hukuman atas dosa mereka dengan kata lain 10 hukum adalah 10 pasal berlapis yang dikenakan dan dinyatakan kepada mereka dan mereka dinyatakan bersalah atasu keseluruhan pasal hukum tersebut dan putusan vonis mati adalah palu yang dijatuhkan atas diri mereka.

Bukankan ini menjadi realita kehidupan kita umat manusia secara universal? Lucu disini karena mereka mengaku umat Tuhan di zaman sekarang yaitu mereka yang merasa sangat bangga hingga merasa sudah pasti masuk surha hanya dengan keyakinan kepada hukum ke-4 tentang hari ketujuh tanpa mau merenungkan sesuatu yang lebih penting yaitu hukum ketujuh yang berbunyi : “jangan berzinah” dan yang membelenggu dan yang membunuh jiwa mereka, janganlah berharap kepada pemahaman yang jelas tentang hari ketujuh sebelum anda merenungkan dan melihat hukum ketujuh itu terlebih dahulu. Sangat wajar kalau para pengukit hari ketujuh Sabtu tidak memahami sabat hari ketujuh karena mereka hidup dalam perzinahan besar yang merupakan pelanggaran atas hukum ke tujuh.

Hukum keempat yang tertulis hari ketujuh atau Sabat itu menunjukkan cacat tabiat mereka yang tidak memiliki belas kasih (tidak ada kesucian dan kekudusan) dan yang suka menghakimi sesama manusia. Didalam upaya mereka untuk menutupo kejahatan mereka terhadap belas kasih ini, maka mereka menghidupkan budaya-budaya ritual penyembahan kepada berhala sebagaimana yang juga terjadi di gereja-gereja Tuhan. Mereka jadikan pikiran mereka sebagai altar untuk menaruh berbagai bentuk berhala keinginan dan yang mereka puja dengan penyembahan melalui acara-acara mereka. Pikiran mereka berzinah dengan dosa membuat kasih semakin dingin. Lucu juga orang-orang ini mau menuruti hukum mereka sendiri saja tidak paham akan maknanya. Maukah anda tersadar bahwa hukum keempat itu sedang menunjuk kepada anda bahwa yang namanya kesalehan anda yang mengaku sebagai umat Tuhan itu ternyata kain najis. Najis karena itu perzinahan dengan berhala pikiran yang dikendalikan oleh sistem dan tradisi babilon, kesalehan palsu yang adalah kain najis dan berhala di altar pikiran mereka itu ternyata berhala “hari” yang mereka sebut hari beribadah.

Apa yang mau anda turut, dan apa yang mau anda sucikan dengan 10 tersebut, khususnya hukum keempat?

10 Pasal penghukuman itu pelanggaran bukan kesucianmu. Debu, buta, telanjang dan tidak tahu apa-apa mau menurut dan suci. Hmm…..ngaca dong!  Tidak ada orang yang hidup karena 10 hukum, justru sebaliknya Dia mati karena 10 pasa tuntutan hukum ini. Orang benar dapat hidup semata-mata hanya oleh kasih karunia. 10 hukum yang merupakan 10 pasal tuntutan hukum ini semata-mata dan sesungguhnya adalah keinginan yang datang dari dalam kemanusiaan berdosamu. 10 perintah Allah itu adalah 10 jenis keberdosaan manusia yang ada didalam pikiran dan perbuatan berdosa yang hidup pada dirimu dan sesungguhnya itulah ‘hukuman’ yang sedang engkau jalani dibumi ini. Tuntan hukum, putusan maupun penghukuman atau penjara yang sesungguhnya itu adalah pikiranmu dan hatimu sendiri.

Kiranya Tuhan memberkati kita semua… Amin… YRA.

FB Comments