Dari semua perintah yang ada di dalam Taurat, ada banyak perintah yang membuat seluruh dunia bingung. Salah satu dari perintah tersebut adalah perintah-perintah yang menerima penghukuman fisik langsung pada saat pelanggaran terjadi. Pezinah dirajam dengan batu. Gigi ganti gigi. Mata ganti mata. Nyawa ganti nyawa. Apabila kita hendak “memberlakukan” Taurat, apakah “sistem penghukuman” seperti ini pun harus ikut diberlakukan?

Karena tidak memiliki jawaban atas kebingungan dan ketidakmengertian mereka, Konstantin meracik sebuah agama baru dan memformulasikan sebuah solusi yang menarik: “Taurat dan penghukumannya sudah tidak berlaku. Darah Jesus Christ sudah menghapus semuanya.” Namun benarkah?

Dengan gerakan kembali kepada “akar Ibrani” dan “hukum Taurat”, seluruh kekristenan mentok pada hukum “nyawa ganti nyawa” ini. Apa yang harus dilakukan dengan hukum ini? Masih haruskah penghukuman “primitif” ini diberlakukan?

Namun di sinilah letak kesalahpahaman dunia terhadap Taurat. Kelima kitab Taurat dari Kejadian sampai

http://www.milechai.com

http://www.milechai.com

Ulangan, tidak dapat dilihat sebagai 613 perintah yang berdiri sendiri dan sekedar di-“bundel” menjadi satu. Taurat harus dilihat sebagai sebuah konsep yang utuh. Jangan bertanya apakah perintah ini atau itu berlaku atau tidak. Bertanyalah apa gambaran (garis) besar dari Taurat itu? Dari sini, kita akan dapat menjawab apa yang harus kita lakukan terhadap hukum “nyawa ganti nyawa” tersebut.

Ijinkan saya untuk menjelaskan dengan cara sederhana: Apabila seorang anak bertanya, “Apa definisi KEADILAN? Dan apa STANDARD KEADILAN yang paling adil?” Bagaimana Saudara menjawabnya?

Apabila seorang perempuan diperkosa, penghukuman apa yang harus dijatuhkan kepada pelaku, yang setimpal dengan pemerkosaan tersebut? Pengukuman apa yang ADIL bagi seorang pemerkosa? Apakah 3 bulan penjara cukup “ADIL”? 2 tahun? 5 tahun? Dapatkan penghukuman yang ADIL diukur dengan tahun? Mengingat trauma yang dimiliki oleh perempuan itu bisa terus menghantui korban sampai puluhan tahun, belum lagi kehormatan keluarga yang terinjak-injak. Atau cukupkan denda US$1juta, seolah-olah kehormatan perempuan dan keluarga itu serta trauma yang ada dapat dibeli dan ditebus dengan uang? Siapa yang paling dapat menjelaskan STANDARD KEADILAN yang paling adil?

Saya tidak dapat memikirkan seseorang yang paling berhikmat untuk menjelaskan STANDARD KEADILAN yang paling adil, selain TUHAN sendiri. Taurat adalah kitab yang secara TERPERINCI menjelaskan definisi KEADILAN yang paling adil. Untuk menyederhanakan penjelasan — Taurat adalah penjelasan yang detail mengenai hukum yang berlaku di dunia ini (roh maupun fisik). Sekaligus di dalam Taurat itu juga, TUHAN menjelaskan secara detail “harga” dari setiap pelanggaran hukum yang terjadi. “Harga” dari pelanggaran hari Shabbat, misalnya, adalah kematian dengan rajam.

Ketika orang Israel ada di padang gurun,
didapati merekalah seorang yang mengumpulkan kayu api pada hari Sabat.
Lalu orang-orang yang mendapati dia sedang mengumpulkan kayu api itu,
menghadapkan dia kepada Musa dan Harun dan segenap umat itu.
Orang itu dimasukkan dalam tahanan,
oleh karena belum ditentukan apa yang harus dilakukan kepadanya.
Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa:
“Orang itu pastilah dihukum mati;
segenap umat Israel harus melontari dia dengan batu
di luar tempat perkemahan.”
(Bil 15:32-35)

Contoh lain: “harga” dari pelanggaran kekudusan seksualitas adalah kematian dengan rajam juga. Mengenai seorang perempuan yang tidur dengan laki-laki sebelum pernikahan dengan laki-laki lain, TUHAN mengatakan,

…maka haruslah si gadis dibawa ke luar ke depan pintu rumah ayahnya,
dan orang-orang sekotanya haruslah melempari dia dengan batu, sehingga mati
— sebab dia telah menodai orang Israel dengan bersundal di rumah ayahnya.
Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu.
(Ul 22:21)

en.wikipedia.org

en.wikipedia.org

Untuk setiap pelanggaran, pembunuhan, pencurian, kecelakaan, dan setiap kesalahan sekecil apapun, TUHAN memberikan definisi “harga” yang harus dibayar. Perhatikan bahwa seluruh Taurat secara garis besar menjelaskan hukum, dan “harga” dari pelanggaran hukum itu. Seringkali kita melihat bahwa Firman TUHAN menuntut kematian dari seseorang yang melakukan dosa tertentu. Dalam firman TUHAN tersebut, kita melihat dengan jelas, bahwa konsekuensi dari dosa adalah kematian. Beberapa diantaranya adalah:

 

 

Pelanggaran Shabbat:

“Haruslah kamu pelihara hari Sabat, sebab itulah hari kudus bagimu; siapa yang melanggar kekudusan hari Sabat itu,pastilah ia dihukum mati, sebab setiap orang yang melakukan pekerjaan pada hari itu, orang itu harus dilenyapkan dari antara bangsanya.” (Kel 31:14)

Yang makan darah:

Setiap orang yang memakan darah apapun, nyawa orang itu haruslah dilenyapkan dari antara bangsanya. (Im 7:27)

Sengaja melanggar perintah Taurat yang mana pun, akibatnya adalah kematian. Hal ini berlaku baik bagi orang Israel maupun bagi bangsa-bangsa lain. Setiap pelanggaran Taurat (entah perintah Shabbat, entah perintah makanan, entah perintah yang lain), disebut dosa yang disengaja. Dosa tersebut dikategorikan sebagai “merombak hukum TAURAT”. Akibat dari dosa ini adalah kematian.

Tetapi orang yang berbuat sesuatu dengan sengaja, baik orang Israel asli, baik orang asing, orang itu menjadi penista TUHAN, ia harus dilenyapkan dari tengah-tengah bangsanya, sebab ia telah memandang hina terhadap firman TUHAN dan merombak perintah-Nya; pastilah orang itu dilenyapkan, kesalahannya akan tertimpa atasnya.

Namun seluruh Taurat bukan hanya berisi hukum dan harga pelanggaran hukum. Seorang Rabbi besar ketika Yeshua masih anak-anak, yaitu Rabbi Hillel, mengatakan bahwa rangkuman dari hukum Taurat adalah, “Apa yang kamu benci/ tidak kamu suka, jangan lakukan terhadap sesamamu.” Di dalam Kitab Kristeb, tercatat bahwa Yeshua mengajarkan bahwa itulah kesimpulan dari seluruh Taurat, “Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Di dalam Taurat yang penuh dengan hukum dan harga pelanggaran hukum itu, ada juga perintah untuk mengasihi TUHAN dan juga mengasihi sesama manusia. Secara khusus, TUHAN mendefinisikan “mengasihi sesama manusia” sebagai berikut:

“Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri…” (Im 19:18)

Renungkan baik-baik. Apabila Saudara diberikan defnisi hukum, dan juga “harga” pelanggaran hukum itu, bukankah Saudara akan langsung MENUNTUT BALAS, atau MENUNTUT KEADILAN sesuai dengan “harga” yang sudah jelas tercantum di dalam Taurat? Namun keadilan harus memiliki keseimbangannya di dalam kasih karunia. Rabbi Hillel (dan juga Yeshua) mengajarkan bahwa apabila kita tidak mau orang lain menuntut kematian kita karena kesalahan kita terhadap mereka, maka haruslah kita juga tidak menuntut kematian orang lain karena kesalahan mereka terhadap kita. Dengan kata lain, ketika karena KEADILAN saya dapat menuntut seseorang supaya mati sebagai konsekuensi kesalahan mereka terhadap saya, KASIH KARUNIA membuat saya TIDAK MENUNTUT BALAS, TIDAK MENARUH DENDAM dan bahkan dapat melepaskan pengampunan atas orang tersebut.

pinsta.me

pinsta.me

Camkan baik-baik bahwa hukum “Nyawa Ganti Nyawa” hanya merupakan satu aspek dari keutuhan dan keseimbangan Taurat. Masih ada aspek “kasih” dan “kasih karunia” yang berfungsi sebagai penyeimbang seperti pada sebuah neraca. Orang yang TZADIK (seperti Yusuf) adalah dia yang dapat menemukan keseimbangan tersebut –antara keadilan dan kasih karunia– dan memilih untuk bertindak persis dengan standard TUHAN — Taurat.

Ketika Kasih dan Keadilan bercumbu mesra hal itu akan melahirkan insan sempurna. (extramiles: MTj)

 

 

 

*) Nama penulis dan isi tulisan yang ditampilkan atas persetujuan dan izin Penulis. Kandungan dan kelahiran artikel diatas sepenuhnya menjadi keinginan dan tanggungjawab Penulis. JIka ada pembaca yang ingin menuliskan artikel serupa bisa segera menghubungi redaksi extramiles.club

FB Comments