Salah satu strategi perang yang telah terbukti ampuh adalah pengalihan perhatian (diversion). Sebuah kekacauan diciptakan di sebuah tempat supaya musuh memusatkan perhatian pada kekacauan itu, lalu serangan yang lebih mematikan menghentak di tempat lain.

Tukang sulap sering menggunakan strategi ini di atas panggung. Mereka membuat berbagai macam gerakan yang sebenarnya untuk mengalihkan perhatian kita. Tujuannya adalah untuk membuat kita percaya bahwa si tukang sulap memiliki kekuatan magis untuk menciptakan, menghilangkan atau merubah sesuatu.

Ya…..Si Penipu Ulung Sepanjang Sejarah telah mempelajari pentingnya memberikan sesuatu yang bisa mengalihkan perhatian manusia. Dia memberikan sesuatu yang bisa kita pegang, lihat dan rasakan secara nyata, sebuah konsep palsu yang bisa dengan mudah kita deteksi. Dan ketika pikiran kita terpusat pada hal itu, serangan yang mematikan diam-diam diluncurkan. Setan tahu betul bahwa ketika kita merasa yakin bahwa kita telah mengetahui benar atau salah, sebenarnya kita telah membuka benteng pertahanan kita sendiri.

Setan telah menggunakan strategi ini dengan hampir sempurna. Selama bertahun-tahun, saya, sebagaimana orang-orang Kristen lain (termasuk SDA) telah dibombardir agar percaya bahwa kita mengetahui tipuan setan mengenai Hukum Allah, tetapi rupanya, saya menemukan bahwa tipuan tersebut hanyalah sebuah pengalihan perhatian. Apakah anda sudah menemukan tipuan Setan yang sesungguhnya? Atau…Apakah anda masih terjebak di dalam perangkap Setan dan tetap berkutat di dalam konsep palsunya?

Daniel 7:25 menubuatkan bahwa ada kekuatan jahat yang akan muncul dan “mengubah” Hukum Allah. Kaum Protestant secara historis telah memahami bahwa perubahan yang dimaksud dalam Daniel 7:25 terjadi ketika penguasa agama mengubah 10 Hukum dengan menghapus hukum ke 2, dan memecah hukum ke 10 menjadi 2 bagian, lalu mengubah sabat dari hari sabtu ke hari Minggu.

www.godstenlaws.com

www.godstenlaws.com

Sejarah mencatat peristiwa ini dan penguasa agama yang melakukan perubahan dengan bangga mengaku bahwa mereka memiliki kekuasaan di bumi. Tidak sedikit rekan-rekan SDA yang bisa langsung menunjukkan bukti sahih, disertai kutipan sejarah lengkap dengan tanggal, bulan, tahun ketika perubahan ini terjadi. Tetapi itu adalah sebuah PENGALIHAN PERHATIAN – Setan memberikan sesuatu yang bisa memancing perhatian kita, dia berikan “perubahan” yang literal, yaitu perubahan 10 hukum yang dilakukan oleh organisasi yang literal, dan tercatat secara literal dalam dokumen sejarah yang juga literal, sehingga kita yang mengaku SDA – sering memperdebatkannya secara literal, mendukung atau menolaknya secara literal dan ketika kita sibuk melakukan itu semua, serangan yang jauh lebih mematikan sedang bekerja. BRILIIANT!!! itulah yang telah dilakukan oleh ‘tanduk kecil’ dalam Daniel 7.

Apa yang sebenarnya di rubah dalam hukum Allah tersebut? Perubahan yang secara umum telah dipercayai oleh umat Kristen bahkan SDA sendiri? Perubahan tersebut adalah:

“Hukum Allah adalah hukum yang sifatnya “IMPOSED”.Hukum Allah bersifat legal formal, yang wajib dilaksanakan oleh seluruh ciptaan-Nya, untuk mengatur kehidupan seluruh ciptaan-Nya dan untuk menguji kesetiaan seluruh ciptaan-Nya, yang jika tidak dilaksanakan, Allah sendiri yang akan menjatuhkan hukuman”.

Padahal, hukum Allah adalah sebuah hukum alamiah yang menjadi prinsip utama atau Sistem Operasi agar seluruh alam semesta dapat berjalan sebagaimana layaknya. Tanduk kecil tidak hanya mengubah hukum ke 2, ke 4 dan memecah hukum ke 10, tetapi dia telah mengubah esensi dari hukum itu sendiri!!

Nah, pertanyaan besarnya adalah, apakah hukum Allah bersifat “imposed“atau hukum alamiah? Apakah pada suatu waktu di masa lalu ke-3 oknum ke-Allah-an, berdiskusi, menyusun dan mendokumentasikan hukum itu? atau Allah tidak pernah menciptakan hukum, karena hukum itu adalah pancaran dari karakter Nya yang kekal, yaitu kasih yang kekal? Apakah hukum Allah sama seperti Undang-Undang yang dibuat oleh manusia, yang pelaksanaannya bersifat wajib? atau Hukum Allah bersifat alamiah karena merupakan expresi dari kasih Allah yang merupakan dasar dari beroperasinya alam semesta, seperti rotasi bumi, metabolisme tubuh, perputaran atom?

Allah yang adalah kasih, menciptakan, membangun dan mendesain alam semesta yang beroperasi seirama dengan karakternya, dan segala sesuatu ada di dalam Dia (Kol 1:17). “Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat” (Roma 13:8) Baca juga Galatia 5:14, Yakobus 2:8, Matius 12:37-40, Amsal 12:28, Amsal 21:21, Amsal 19:7.

Salah satu pioneer SDA juga memberikan pemikiran yang sama:

“In living for self he has rejected that divine love which would have flowed out in mercy to his fellow men. Thus he has rejected life. For God is love, and love is life” (COL 258)

The law of love being the foundation of the government of God, the happiness of all created beings depended upon their perfect accord with its great principles of righteousness– The Great Controversy, pg. 493

But turning from all lesser representations, we behold God in Jesus. Looking unto Jesus we see that it is the glory of our God to give. “I do nothing of Myself,” said Christ; “the living Father hath sent Me, and I live by the Father.” “I seek not Mine own glory,” but the glory of Him that sent Me. John 8:28; 6:57; 8:50; 7:18. In these words is set forth the great principle which is the law of life for the universe. All things Christ received from God, but He took to give. So in the heavenly courts, in His ministry for all created beings: through the beloved Son, the Father’s life flows out to all; through the Son it returns, in praise and joyous service, a tide of love, to the great Source of all. And thus through Christ the circuit of beneficence is complete, representing the character of the great Giver, the law of life. —The Desire of Ages, pg. 21

Jelas bahwa Hukum Allah adalah Hukum Kasih dan hukum ini menjadi desain utama agar kehidupan bisa berjalan. Dan jika kita mencoba untuk melanggar hukum kehidupan, otomatis akan mengakibatkan kematian..kecuali, Allah mengintervensi untuk kesembuhan. Sama seperti anda jika melompat dari ketinggian, pasti anda akan terhempas ke tanah dan mati. Kematian itu bukan karena Allah yang membunuh anda, tetapi anda sendiri yang telah melanggar hukum gravitasi yang mengakibatkan tubuh anda terhempas ke tanah.

Setan telah menipu kita, dan kita tidak lagi memandang Allah sebagai pencipta yang penuh kasih yang rela memberikan apapun yang Dia miliki, termasuk nyawanya, untuk kebaikan seluruh ciptaan-Nya. Tetapi kita memandang Allah sebagai sosok yang ingin menggunakan kekuatan-Nya untuk mendominasi, mengatur dan memaksakan kehendak Nya terhadap kita.

Dengan menerima perubahan terhadap Hukum Allah inilah, si tanduk kecil telah menanam trojan yang merusak kekristenan dengan pekabaran palsu. Perubahan hukum ini mengakibatkan munculnya konsep-konsep palsu seperti:

1. Untuk memenuhi rasa keadilan, harus menerapkan hukuman atas dosa dan dengan demikian, Allah harus menghukum manusia berdosa

2. Agar manusia berdosa bisa terhindar dari hukuman, Allah meminta tebusan yang harus dibayar oleh seseorang

3. Allah mengutus Anak-Nya untuk membayar hutang dosa dan menghukum-Nya sebagai ganti kita.

4. Allah – atas nama keadilan – harus menghukum manusia berdosa jika dosa-dosa mereka tidak bisa dilunasi.

3. Kebohongan ini telah meracuni keKristenan dan hampir semua para ahli teologi di seluruh denominasi mendukung kebohongan ini. Ini adalah kebohongan yang telah menyalah artikan karakter Allah. Ini adalah kebohongan yang menghalangi umat Tuhan menyebarkan kabar baik untuk menyambut kedatangan-Nya. Dan umat Advent dipanggil untuk membongkar kebohongan ini.

Salah satu Pioneer gereja Advent pernah menulis sebuah surat yang menjelaskan pemahaman mengenai hukum Allah yang sebenarnya, kepada Uriah Smith, seorang editor Review & Heral pada tahun 1890-an. Tetapi, sepertinya Uriah Smith tidak mempedulikan surat tersebut dan dia menyimpannya. Setelah tersimpan selama 60 tahun, surat tersebut akhirnya dipublikasikan dalam sebuah buku yang berjudul Selected Messages I, hal 235

The law of ten commandments is not to be looked upon as much from the prohibitory side, as from the mercy side. Its prohibitions are the sure guarantee of happiness in obedience. As received in Christ, it works in us the purity of character that will bring joy to us through eternal ages. To the obedient it is a wall of protection. We behold in it the goodness of God, who by revealing to men the immutable principles of righteousness, seeks to shield them from the evils that result from transgression.

We are not to regard God as waiting to punish the sinner for his sin. The sinner brings the punishment upon himself. His own actions start a train of circumstances that bring the sure result. Every act of transgression reacts upon the sinner, works in him a change of character, and makes it more easy for him to transgress again. By choosing to sin, men separate themselves from God, cut themselves off from the channel of blessing, and the sure result is ruin and death.

The law is an expression of God’s idea. When we receive it in Christ, it becomes our idea. It lifts us above the power of natural desires and tendencies, above temptations that lead to sin. “Great peace have they which love thy law: and nothing shall offend them” (Psalm 119:165)– cause them to stumble.

There is no peace in unrighteousness; the wicked are at war with God. But he who receives the righteousness of the law in Christ is in harmony with heaven. “Mercy and truth are met together; righteousness and peace have kissed each other” (Psalm 85:10). Letter 96, 1896. — Selected Messages vol 1, pp. 234 -235

Hukum Allah adalah sebuah prinsip kebenaran yang berasal dari pikiran Allah yang menjadi sumber kehidupan. Pelanggaran dari hukum itu tidak mewajibkan Allah untuk menghukum, tetapi akan berakibat pada kehancuran dan kebinasaan, kecuali Allah menintervensi untuk kesembuhan (Roma 6:23, Yakobus 1:15) Tujuan Yesus hidup di dunia, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menjamin pemulihan manusia dari dosa. “Karena Allah tidak mengirimkan anak-Nya untuk menghukum, tetapi untuk menyelamatkan dunia melalui Dia (Yoh 3:17)

http://ichef.bbci.co.uk/arts (c) York Museums Trust; Supplied by The Public Catalogue Foundation

http://ichef.bbci.co.uk/arts
(c) York Museums Trust; Supplied by The Public Catalogue Foundation

Mereka yang tetap menerima kebohongan hukum Allah, telah gagal memahami bahwa Hukum adalah sebuah alat yang bisa mendiagnosa penyakit dosa kita dan kita akan dituntun oleh hukum itu untuk datang kepada Allah agar sembuh. Sebaliknya, mereka memandang sekedar hukum sebagai sebuah aturan yang harus ditaati. (Roma 5:20). Mari kita buang jauh-jauh pemahaman mengenai hukum Allah yang di gembar gemborkan oleh si Tanduk Kecil,mari kita mendekat ke kaki salib dan melihat esensi hukum Allah yang sebenarnya. (extramiles: Amos Tri Subekti)

 

 

*) Nama penulis dan isi tulisan yang ditampilkan atas persetujuan dan izin Penulis. Kandungan dan kelahiran artikel diatas sepenuhnya menjadi keinginan dan tanggungjawab Penulis. JIka ada pembaca yang ingin menuliskan artikel serupa bisa menghubungi redaksi extramiles.club

 

“Klik disini untuk diskusi”

FB Comments